jump to navigation

Hemat Energi Dengan WLC (Water Level Controller) 14 September 2011

Posted by Cah Maduran in Pengetahuan & Teknologi.
Tags: , , , , , , , ,
add a comment

AYO INDONESIA BISA berubah menjadi lebih baik…

Dalam kehidupan sehari-hari kita, baik di rumah, di kantor, di gedung-gedung, di pabrik-pabrik/industri, di tempat ibadah, terutama masjid (yang notabene jamaahnya banyak menggunakan air untuk berwudlu) selalu kita temui tempat penampungan air. Penampungan air ini bisa berupa ground tank, roof tank, tanki air atau sering disebut tandon air dan bermacam-macam tempat penampungan buatan yang lain.

Tujuan dibuat penampungan air ini adalah untuk menampung sekian liter/meter kubik air dengan jumlah yang banyak atau minimal untuk keperluan dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu hari dan seterusnya. Maksudnya adalah untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu sumber supply air tidak bisa mensupply air karena adanya gangguan jaringan (PAM) atau di daerah yang kering karena sumurnya sudah tidak bisa disedot lagi oleh pompa dan harus menunggu 1 hari untuk bisa disedot.

Manfaat lain penampungan air adalah jika berupa tandon atas/ roof tank maka untuk menyalurkan pada pengguna yang ada di bawah cukup mengandalkan gaya gravitasi saja tanpa harus pakai pompa lagi. Dan tentunya menggunakan penampungan air itu bisa menghemat energi listrik. Penampungan air yang menggunakan pompa untuk mengisinya diperlukan satu kali menyalakan pompa dan pompa akan terus hidup sampai penampungan air tersebut penuh dan baru pompa dimatikan.

Satu kali pompa menyala berarti hanya satu kali terjadi lonjakan arus listrik yang terjadi ketika pompa start, dan hal ini sangat menghemat energi listrik. Sangat berbeda jika pompa menyala ketika seseorang membuka keran hanya untuk mencuci tangannya dan sebentar lagi pompa mati ketika keran ditutup. Jika hal ini terjadi berkali-kali dalam satu hari saja, maka sudah terjadi berkali-kali juga pompa menyala-mati (start-stop) yang berarti terjadi berkali-kali juga lonjakan arus pada start-pompa, ini adalah pemborosan. Oleh karena itu penampungan air sangat diperlukan.

Penampungan/tanki air yang berada di atas atap rumah/gedung pastinya memerlukan pompa untuk mengisinya, dan untuk menghidupkan pompa tersebut diperlukan orang untuk melakukannya. Sedangkan ketika orang lupa menghidupkan pompa dan air dalam tanki sudah hampir habis, maka ini bisa mengganggu rutinitas yang ada hubungannya dengan konsumsi air, begitu juga ketika orang lupa mematikan pompa dan air dalam tanki sudah hampir penuh dan meluber, maka ini juga pemborosan, baik pemborosan air maupun pemborosan energi listrik. Untuk mengantisipasi masalah di atas, maka diperlukan sebuah sistem atau alat yang bisa mengendalikan kerja pompa, yaitu dengan Water Level Controller(WLC).

Water Level Controller (WLC) atau dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia Pengendali Level/Ketinggian Air adalah sebuah alat yang sesuai namanya bertujuan untuk mengendalikan atau mengatur ketinggian air dalam suatu bak air atau tanki secara otomatis. Secara singkat prinsip kerja WLC ini adalah mengatur kerja pompa air yang akan mengisi bak air/ tanki dengan ketinggian air sebagai acuannya.

Ketika air dalam tanki akan habis, maka sensor yang mengindra level paling bawah air (ditentukan pada ketinggian sesuai keinginan) akan memberikan sinyal ke WLC, dan selanjutnya WLC memberikan perintah untuk menyalakan pompa.Sebaliknya ketika air dalam tanki yang diisikan oleh pompa tadi sudah mencapai level atas (sebelum meluber keluar tanki) maka sensor yang mengindra level paling atas air akan memberikan sinyal ke WLC, dan selanjutnya WLC memberikan perintah untuk mematikan pompa, begitu seterusnya.

Beberapa jenis peralatan yang bisa dikategorikan sebagai WLC sebagai berikut :

1. Mekanik (Pelampung)

Pelampung atau istilah pasarannya adalah floating valve merupakan WLC yang banyak digunakan orang untuk mengatur level air agar tetap pada ketinggian tertentu. Pelampung ini bisa bergerak naik turun mengikuti level air. Ketika air turun dan bola pelampungnya tidak mendapat gaya ke atas oleh air maka keran/valve pada pangkal lengan pelampung akan membuka, dan air mengalir ke dalam tanki/bak air hingga level air mengangkat bola pelampung ke atas dan menutup kembali keran/valve dan air tersumbat/berhenti mengalir.

Pelampung semacam ini paling cocok digunakan pada tanki/bak air yang menggunakan supply air dari sumber tertentu yang memanfaatkan gravitasi sebagai kekuatan aliran airnya, misalnya dari roof tank/tandon air ke bak mandi. Hal ini dimaksudkan agar bak mandi selalu terisi penuh oleh air. Sedangkan jika menggunakan supply air dari sumber yang memerlukan pompa air maka pelampung ini kurang cocok, karena pompa air juga masih akan sering start-stop, seperti dijelaskan di atas, ini pemborosan energi listrik.

Pelampung ini banyak macamnya, tetapi semua mempunyai satu prinsip yang sama yaitu semuanya bekerja secara mekanik. keran/valve yang membuka dan menutup sepenuhnya dikendalikan oleh bola pelampung yang terkena gaya ke atas akibat level air yang naik turun. Mengenai harga pelampung ini relativ tergantung model dan jenis material yang digunakannya. Bisa terbuat dari plastik, juga bisa dari logam, dari logam ada yang bisa berkarat dan juga yang tidak berkarat.

2. Semi Elektrik-Mekanik

Dinamakan WLC yang Semi Elektrik-Mekanik (SEM) karena sebenarnya WLC ini bekerja menggunakan prinsip elektrik tetapi masih menggunakan bola pelampung yang berfungsi sebagai sensor level air. Pelampung dihubungkan dengan tali dari sistem pensaklaran (secara mekanik) setinggi level air yang diinginkan untuk dikontrol.

Digunakan 2 pelampuang untuk melakukan penginderaan/sensoring level air secara otomatis, yaitu level atas dan level bawah. Pelampung pada level bawah dihubungkan ke sistem pensaklaran yang akan menghidupkan pompa pengisi tanki sedangkan pelampung pada level atas dihubungkan ke sistem pensaklaran yang akan mematikan pompa ketika air dalam tanki sudah hampir penuh.

Prinsip elektrikalnya menggunakan relay untuk mengatur sistem pensaklaran yang dihubungkan dengan bola pelampung. Adapaun jumlanya cukup dengan sebuah relay saja yang mempunya 2 kontak NO/NC. Berikut gambar rangkaina relay yang mengatur pensaklaran dari bola pelampung.

Penjelasan Gambar :

Dalam kasus ini digunakan relay yang bekerja pada tegangan 220VAC, rangkaian ini juga bisa digunakan pada relay 24VDC, tinggal mengubah tipe relay dan sumber tegangannya saja.

L = Line PLN 220 VAC; N= Netral; S0= Selector switch untuk mengubah mode auto/manual; S1= saklar N/O yang dihubungkan secara mekanik ke pelampung level bawah; K1 (13-14)= Koil Relay; K1(5-9) dan (8-12)= kontak N/O relay; S2= saklar N/C yang dihubungkan secara mekanik ke pelampung level atas; S3= Saklar N/O untuk mode manual; M= Motor (pompa).

Keunggulan WLC SEM ini jauh lebih baik dibandingkan dengan sistem pelampung biasa. Perbandingan ini mengacu pada level air yang ingin dikontrol adalah sesuka hati kita, dimana level air yang ingin dikontrol disesuaikan dengan panjang penghubung bola pelampung (benang/senar). Jadi jarak level air terendah dan tertinggi bisa sesuai keinginan, sednagkan menggunakan pelampung /floating valve hanya sebatas pada tinggi rendahnya ayunan lengan pelampung yang mengakibatkan pompa masih sering start-stop. Untuk perbandingan harga, WLC SEM lebih murah dari Floating Valve bahkan ini bisa kita buat sendiri dengan memanfaatkan barang-barang bekas di rumah kita kecuali relay dan selector switch.

Bersambung……

AYO INDONESIA BISA berubah menjadi lebih baik…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: